Urgensi Pelajar dalam Politik

Pelajar Indonesia merupakan harta yang perlu di cerdaskan, karena pelajar Indonesia adalah penerus generasi NKRI selanjutnya. namun kondisi politik di Indonesia terutama di kalangan pelajar itu belum dewasa. Australia misalnya, kondisi pelajar tidak ada lagi ketabuan terkait ia mengidentidfikasi dirinya adalah adalah partai politik. Kenapa begitu? Karena mereka telah dewasa menanggapi politik dan demokrasi secara dewasa.

Nah bagaimana dengan kondisi politik pelajar Indonesia sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan? Politik pelajar sesudah kemerdekaan memang sangat berbeda esensinya dengan sebelum kemerdekaan. Mereka tidak pernah di todong senjata, diancam, bahkan diculik, kini mereka dapat tidur dengan nyenyak, makan enak, bepergian, hingga berekspresi di dunia digital.

Ada keadaan yang seringkali tidak disadari oleh mayoritas orang, bahkan mayoritas pelajar itu sendiri adalah, kini pelajar mulai mengenal sayap-sayap dari partai politik. Pelajar harus melek politik, namun yang harus menjadi landasan dasar adalah kapabilitas pelajar itu sendiri apakah dia mampu untuk berkecimpung di partai politik. Karena pada praktiknya, banyak kompetisi, peluang, hingga beasiswa, terdapat persyaratan atau aturan yang menyatakan Tidak sedang menjadi pengurus / anggota partai politik. Banyak pelajar yang mendapat stigma buruk jika ia telah nyemlung ke partai politik.

Dilematis akhirnya muncul, pelajar memang memiliki hak dan kewajiban untuk melek politik, namun pelajar memiliki arena politik yang sempit. Politik pelajar bisa dibagi menjadi beberapa titik penekanan. Pertama, politik pelajar itu bukan politik transaksional dan politik praktis. Karena sejatinya politik pelajar adalah politik gagasan atau nilai, yang dapat menghasilkan gagasan untuk pro-rakyat, pro-lingkungan. Disitulah urgensi ketika situasi bangsa sedang dalam ketimpungan. Kedua, politik pelajar itu multi-kompetensi. Pelajar adalah penyambung ide dan gagasan segar yang menjadi embrio perubahan kebijakan perubahan bangsa. Ketiga adalah konsisten. Pelajar harus konsisten dalam megkritisi kebijakan-kebijakan yang dibuat stakeholder terkait yang harus kembali kepada kedaulatan rakyat.

Terkadang dari perspektif pelajar itu tidak berani dalam logika berfikir. Karena perlunya dinamika agar bangsa ini dapat menjadi demokratis. Bahkan Indonesia dapat merdeka terkait adanya konflik antara yang muda dengan yang tua. Sehingga perlunya forum-forum diskusi yang mewadahi untuk memantik daya nalar dan daya peka pelajar terkait kondisi politik di lingkup pelajar. Sangat disayangkan memang kalau pelajar ditarik secara paksa oleh partai politik. Pertanyaan besarnya, parpol butuh pelajar untuk kepentingan apa? Apakah karena basisnya? Atau hanya untuk dimanfaatkan parpol sebagai domba gembala? Karena sejatinya akademisi, dalam lingkup pelajar adalah kembali ke point yang dijelaskan paragraf sebelumnya.

Hidup Pelajar Indonesia!!!

Penulis : Abraham Adi Mukti
Editor : Handie Pramana Putra

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Band Cilik SD Muhammadiyah 4 turut memeriahkan MUSDA XX