Nilai-Nilai Spiritual dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai Lensa Pelajar Masa Kini

Oleh: Marsha Durrotun Nasiha

Peristiwa Isra’ Mi’raj, seperti yang kita ketahui merupakan salah satu kisah luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini juga merupakan salah satu mukjizat yang diberikan kepada Rasul yang mempunyai gelar Al-Amin ini. Perjalanan Isra’ Mi’raj hanya terjadi dalam satu malam, disitu pula Rasulullah mengalami serangkaian peristiwa yang tak terduga ketika berangkat sampai pulang dari perjalanan sucinya.

Isra’ yang artinya perjalanan malam dilalui Rasulullah sebagai pemberangkatan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Jarak antara kedua masjid yaitu sejauh 1.239 kilometer tetapi Rasulullah berhasil melewatinya dalam satu malam saja dengan menunggangi buraq. Peristiwa ini juga terkandung dalam ayat Al-Qur’an yaitu surah Al-Isra ayat 1 yang artinya “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 Perlu kita garis bawahi perjalanan isra’ mi’raj yang dimulai dengan peritiwa isra’ merupakan pemberangkatan perjalanan suci Rasulullah SAW yang mengandung nilai kemanusiaan dan nilai ketuhanan yang menyatu erat dalam di Rasulullah. Mengapa begitu? Karena di perjalanan ini dimulai dari Masjidil Haram di makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina yang artinya simbol masjid sebagai pemberangkatan Rasulullah menandakan hendaklah sebuah perjalanan diawali dengan nilai ketuhanan karena ini merupakan perjalanan dari masjid ke masjid. Hal ini tentunya menjadi reminder bagi para kaum milenial saat ini terutama pelajar untuk lebih giat lagi dalam berdakwah maupun berkegiatan di dalam masjid. Karena simbolis masjid sudah sangat kuat sebagai asas nilai ketuhanan dalam berislam mengingat masjid lah yang menjadi batu loncatan dalam peristiwa luar biasa isra’ mi’raj.

Kemudian dilanjut dengan peristiwa mi’raj yang artinya kenaikan yaitu perjalanan Nabi dari Baitul Aqsa di Palestina ke Sidratal Muntaha melewati tujuh langit. Dalam peristiwa ini, di masing-masing lapisan langit Rasulullah bertemu dengan Nabi-nabi sebelumnya, seperti di Nabi Adam di langit pertama, Nabi Isa dan Yahya di langit kedua, yang kemudian di akhir ada Nabi Musa di langit keenam dan Nabi Ibrahim di langit ketujuh. Nabi akhirnya sampai di Sidratul-Muntaha yang merupakan simbol puncak pengetahuan yang paling mungkin dicapai oleh makhluk. Peristiwa ini pun juga tak luput dalam surah an-Najm ayat 17 yang berbunyi “Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya”.

Setelah itu Nabi Muhammad saw. Mendapatkan perintah yang sampai saat ini masih kita jalankan yaitu perintah shalat dari Allah untuk umat Islam. Awalnya, jumlahnya 50 kali sehari. Namun, setiap kali Rasulullah turun, Nabi Musa mengingatkan beliau bahwa jumlah tersebut terlalu besar. Nabi diminta meminta keringanan, hingga tersisa 5 kali sehari semalam, dan beliau malu untuk memohon lebih sedikit lagi. Sekali lagi peristiwa ini menjadi tamparan keras untuk kita semua dalam melaksanakan sholat lima waktu. Bagaimana tidak, Rasulullah saja yang merupakan sosok paling mulia dibumi yang telah menerima banyak mukjizat malu untuk meminta jumlah yang lebih sedikit lagi. Lantas bagaimana dengan kita yang tinggal melaksanakan saja dengan jumlah paling sedikit yang bisa diminta oleh seorang Rasul terkadang masih menyepelekan perihal sholat lima waktu.  نعوذ بالله من ذلك

Semoga dengan adanya peristiwa isra’ mi’raj dan kisah luar biasa yang terkandung di dalamnya bisa menambah iman kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari serta menjadikan kisah ini sebagai salah satu cermin dalam berakhlakul karimah.

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Inilah Makna Pelepasan Burung Pipit pada Pembukaan FORTASI SMAMGA