Menengahi Paradigma Idealis dan Materialis dalam Mewujudkan Peradaban Rahmatan lil ‘Alamin

IPMSUROBOYO.OR.ID – Globalisasi memberikan banyak perubahan pada manusia, mulai dari gaya hidup, fashion, teknologi, hingga ideologi dan budaya. Banyak yang dapat memanfaatkannya dengan mengambil sisi positif, namun banyak juga yang terpapar efek buruknya. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin seharusnya dapat menjadi angin segar di tengah terkikisnya budaya dan nilai islam pada era globalisasi.

Revolusi industri 4.0 juga memberikan banyak dampak. Digitalisasi menyebabkan kita menghabiskan lebih banyak waktu kita bersama gadget di dunia maya dibandingkan kita hidup dalam dunia realita. Ditambah dengan adanya media sosial, kita selalu disuguhkan hal-hal bersifat materi berupa gambar dan video. Setiap pengguna medsos pun dihadapkan dengan perlombaan mencari followers dan belomba menampakkan pencitraan yang paling menarik.

Umat muslim pun tak terhindarkan dari hal ini. Banyak masyarakat yang mulai melupakan alasan hakiki kenapa ia diciptakan. Banyak juga yang mengalami masalah mental dikarenakan hal-hal ini. Baik itu insecurity, mental breakdown, disorientasi, dan lain sebagainya.

Paradigma Idealisme

Idealisme merupakan salah satu paradigma atau konsep berpikir yang dibawakan oleh Plato, seorang filsuf yunani. Idealisme adalah adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa jiwa, roh, sukma, spiritual, berada di atas segalanya. Paradigma ini menghasilkan suatu pemikiran bahwa suatu yang hakiki haruslah abadi dan tidak mengalami perubahan. Plato meyakini bahwa materi merupakan suatu hal yang pasti mengalami perubahan. Maka ia tidak bisa meyakini suatu hal yang bersifat materi ialah entitas hakiki.

Secara umum fitrohnya manusia itu lebih cenderung pada suatu hal yang bersifat hakiki, bukan yang temporer. Hal ini tidak dapat ditemukan manusia pada materi karena ia cenderung temporer dan akan segera berubah. Maka kebenaran hakiki tidak bisa dilekatkan dengan suatu hal yang bersifat materi.

Manusia merasakan aktifitas pergulatan batin dalam dunia mental non fisik, sehingga meskipun manusia dikelilingi oleh materi, manusia tetap merasakan keterikatan batin dan spirit. Manusia akan selalu memberikan nilai, makna, dan tafsir terhadap suatu kejadian pada materi. Seseorang akan memperlakukan barang dengan cara yang berbeda sesuai dengan nilai yang ia rasakan pada batin mereka. Bisa jadi seseorang memperlakukan meja guru lebih sopan dibandingkan meja murid, hal ini termasuk fenomena nilai yang menjadi bukti adanya fitroh idealisme pada diri manusia.

Paradigma Materialisme

Materialisme adalah suatu paham yang menghargai kekayaan dan harta melebihi hal-hal yang lain. Materialisme sangat terkait dan menjadi landasan ilmu-ilmu eksakta. Materialisme meyakini bahwa materi lah dasar dari segalanya. Tidak ada entitas yang dapat hidup tanpa bersandar pada materi. Materialisme kemudian melahirkan turunan ideologi lain seperti : pragmatisme, marxisme, empirisme, dan darwinisme.

Materi memiliki setidaknya tiga ciri: Yang pertama adalah Keluasan, artinya tidak cuma ide dan berhenti di pikiran, Ia meluas hingga realita. Ia ada di dunia nyata. Bagi materialisme, sesuatu yang hakiki haruslah berwujud di alam realita. Kedua, Materi haruslah menempati Ruang dan Waktu. Materialisme

meyakini bahwa waktu itu ada wujudnya dan menempati ruang. Maka materialisme akan mempertanyakan dan membayangkan wujud waktu sebelum adanya penciptaan dunia. Ketiga, Materi haruslah Memiliki bentuk dan rupa. Sesuatu yang ada itu pasti materi. Adanya suara yang dapat didengar, artinya ada sumber suara. Diluar tiga hal itu ia tidaklah bisa disebut sebagai materi. Materialisme meyakini bahwa setiap fenomena terjadi karena kejadian antar materi. Materialisme tidak percaya akan adanya entitas non materi seperti Tuhan, malaikat, setan, roh, dan sebagainya. Materi diyakini sebagai satu-satunya substansi dasar kenyataan. Manusia akan otomatis membayangkan segala sesuatu berdasarkan pengalaman dengan wujud materi.

Kebenaran dalam Islam

Terminologi kebenaran dalam bahasa arab dapat dijumpai dalam beberapa istilah. Dalam kaidah ontologis, kita menggunakan istilah haqq-bathil yang dianggap lebih mewakili kebenaran secara general dan menyeluruh. Kata ini lebih cocok digunakan untuk pembahasan ontologis dibandingkan istilah sidq-kidzb, shawab-khata’, dan shahih-fasid.

Istilah terma haqq dapat mewakili perasaa, tindakan, kepercayaan, pernyataan, penilaian, hingga eksistensi. Suatu hal yang dibahas menggunakan istilah haqq bisa menyatakan suatu kejadian yang telah lalu dan akan datang, tak hanya ketika terjadi suatu peristiwa. Terma haqq juga mencakup pada hal yang lebih agung, yaitu metafisika. Maka kebenaran dalam islam akan selalu kembali pada Al-Haqq, yaitu Tuhan semesta Allah S.W.T.

Kebenaran dalam islam termasuk tema sentral yang penting dibahas dalam bahasan epistemologi. Hal ini dikarenakan setiap manusia pasti menilai bahwa semua agama dan kepercayaan sama-sama memiliki tujuan untuk mencapai kebenaran. Konsep kebenaran dalam perspektif islam tidak hanya memikirkan Tuhan sebagai tujuan dan bersifat ritual semata, namun dalam menilai kebenaran seseorang haruslah memiliki dan melandasi kerangka berpikirnya dengan ilmu. Meski islam meyakini bahwa sumber ilmu adalah segalanya milik Tuhan dan diberikan oleh-Nya, namun islam tidak melupakan eksistensi dan peran manusia terhadap kontribusinya dalam menciptakan, meneliti, atau menemukan ilmu baru. Islam meyakini bahwa ilmu yang dicapai manusia tidak lain adalah karena “proses pengajaran Tuhan”. Tuhan membekali manusia dengan intelektual yang mampu menginterpretasikan ide dan jiwa kreatifnya ke dalam dunia indrawi

Idealisme dalam Islam

Plato datang dengan pemikiran idealismenya dan memformulasikan idenya ini pada abad IV sebelum masehi. Athena sebagai tempat tinggal Plato saat itu sedang berada pada masa peralihan. Para pemikir (Sophis) saat itu berusaha menekankan nilai individualisme dalam masa peralihan dari komunal menuju relativisme di bidang nilai dan kepercayaan. Plato percaya bahwa ada kebenaran hakiki dan universal yang dapat diterima dan disetujui oleh semua orang yang bersifat non materi, karena baginya materi adalah suatu hal yang dapat berubah dan tak dapat abadi

Islam tidak akan bisa dipisahkan dengan akal, spiritual, pikiran, dan perasaan. Allah sebagai Tuhan mengajarkan kita melalui dalil ‘aqli dan naqli adalah suatu perwujudan adanya idealisme dalam agama ini. Tuhan dalam islam pun adalah entitas non materi yang hanya dapat diyakini kebenaran dan keberadaannya melalui perasaan. Hal ini menggugurkan satu poin materi yaitu memiliki wujud dan bentuk yang dapat dirasakan menggunakan indra.

Islam memiliki sisi idealismenya sendiri untuk menanamkan nilai Ketuhanan yang dianggap hakiki dan harus dipegang teguh. Seseorang yang tidak memercayai Allah sebagai entitas ghaib di alam semesta ini bahkan bisa dianggap kafir dan murtad dari agama islam. Sebagai muslim pun juga diminta untuk mengimani adanya entitas non materi lainnya baik setan, jin, dan malaikat.

Materialisme dalam Islam

Materialisme sudah ada sejak zaman yunani, dengan tokohnya yaitu Demokritos, seorang pemulai teori atom yang lahir pada tahun 460 sebelum masehi. Pandangan Demokritos bersifat deterministis dan mekanistis, serta menolak kebebasan. Ia meyakini bahwa semua hal sudah pasti terdiri dan disusun oleh atom, hanya saja setiap atom memiliki ukuran, susunan, sifat, dan cara gerak yang berbeda.

Materialisme sempat padam di era gereja berkuasa, karena pada saat itu gereja mengambil langkah untuk menyebarkan dogma-dogma secara masif, sehingga berhasil menciptakan peradaban yang mengesampingkan penganut materialistik. Materialisme kembali lagi di zaman banyaknya orang mulai mengenal sains modern dan menjadi lebih kritis. Materialisme dapat menjadi penyejuk di tengah keresahan masyarakat barat terhadap kekuasaan gereja yang tidak memberikan kesejahteraan pada masyarakat dan hanya mementingkan kepentingan segolongan orang saja.

Materialisme meyakini bahwa setiap hal merupakan perwujudan materi dan asas dasar dari semua kenyataan adalah materi. Manusia secara alami dan fitroh akan menyangkutpautkan sesuatu dengan materi. Maka kita pun juga tidak dapat memisahkan adanya sifat dasar materialisme dari agama islam.

Allah S.W.T. menggambarkan surga dengan sesuatu yang bersifat materi. Tuhan pun menggunakan istilah-istilah dalam Al-Qur’an sebagai sesuatu yang dapat dibayangkan oleh manusia dengan perwujudan materi, meskipun apa yang dimaksud oleh Tuhan di dalam kitab bisa jadi tidaklah sama dengan apa yang manusia bayangkan. Tuhan menggunakan istilah sungai mengalir, timbangan amal, jembatan sirath, dan banyak istilah-istilah lain yang bersifat materi dicantumkan oleh Tuhan dalam Al-Qur’an.

Bukti keberadaan Tuhan di dunia pun Ia ciptakan dalam bentuk materi yang dapat dirasakan keberadaannya oleh manusia. Selain kitab suci, Tuhan juga meninggalkan jejak sejarah dari kisah di dalam Al-Qur’an jika ada diantara manusia yang ingin membuktikan. Selain sejarah, Tuhanpun juka memberi petunjuk dalam Al-Quran tentang ciptaan-ciptaannya yang dikira mustahil oleh manusia namun itu nyata adanya dan dapat ditemui di bumi ini.

Peradaban Rahmatan lil ‘Alamin

Nabi Muhammad S.A.W. dengan tugasnya menyeru kepada Allah dan diutus di bumi adalah untuk menciptakan tatanan dunia yang penuh rahmat. Allah

berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 107 :

”Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

Banyaknya umat muslim sekarang yang tidak berdaya salah satunya disebabkan oleh mereka yang tidak memahami dan mempelajari agamanya dengan benar. Islam saat ini hanya dikenal bagian ritual dan dalilnya saja, orang- orang hanya berkoar tentang dalil islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa menunjukkan nilai-nilai bijaknya dalam implementasi kehidupan sehari-hari. Padahal nilai inilah yang menjadi pokok utama kenapa Rasulullah S.A.W. diutus.

Pemikiran dunia modern saat ini banyak dipengaruhi oleh barat, maka islam sebagai rahmatan lil ‘alamin harus dapat menyesuaikan diri dengan zaman yang ada ini. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa pemikir islam zaman modern jika ditelusuri akan senantiasa bersentuhan dengan barat. Hampir tidak ada negara islam di zaman modern yang terlepas dari penetrasi kebudayaan barat. Maka pemikir islam modern seperti Ali Syariati, Sayid Qutub, Riffat Hasan, Hassan Hanafi adalah produk barat.

Setidaknya ada tiga bentuk respon para pemikir islam dalam menghadapi masuknya pemikiran barat dalam ideologi mereka. Pertama adalah seorang yang mengambil model barat seutuhnya tanpa mempertimbangkan positif dan negatifnya. Bagi mereka aspek islam harus disesuaikan dengan barat, seakana- akan islam didikte oleh barat untuk mengikuti keinginannya. Kedua, kelompok yang mengambil aspek-aspek tertentu saja dari barat. Kelompok ini menciptakan filter untuk memilah dan mengakulturasi dan asimilasi antara islam dan barat. Kelompok ini meyakini adanya hal-hal yang tidak boleh luntur dari nilai islam karena dua hal ini berasal dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ketiga, kelompok penentang world view fundamentalis. Kelompok ini menentang pemikiran barat mentah-mentah tanpa kompromi dan percaya akan kekayaan tradisi dalam islam yang tidak perlu penambahan[1].

Sikap pertama dan ketiga sama-sama tidak menguntungkan umat muslim. Sikap pertama akan menyebabkan islam kehilangan jati dirinya dan kehilangan tujuannya sebagai agama yang memberikan pedoman kehidupan, lalu sikap ketiga cenderung mencitrakan islam sebagai agama yang eksklusif dan terkesan mengajarkan kekerasan dalam dakwahnya. Al-Qur’an sebagai petunjuk memberikan solusi permasalahan perbedaan dengan memerintahkan kita menjadi ummatan wasatha yang berada di pertengahan dengan adil dan moderat menyikapi suatu permasalahan.

Sebagai seorang yang berusaha untuk moderat, umat muslim memiliki batasan dan panduannya sendiri. Hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan peradaban rahmatan lil ‘alamin dengan menjadi penengah adalah :

  • Memahami realitas

Teks keagamaan yang terbatas dan sudah berhenti akan senantiasa memerlukan perkembangan tafsir supaya dapat mengimbangi perkembangan teknologi dan pengetahuan umat manusia yang berkembang dengan pesat. Sebagai umat penengah seorang muslim harus paham ayat tsawabit dan mutaghayyirat, sehingga dapat melakukan manuver yang cocok dengan kondisi umatnya.

  • Memahami Fiqih Prioritas

Seorang umat penengah juga harus paham tentang prioritas. Seminimal mungkin ia haruslah paham tingkatan yang ada dalam islam yaitu : Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan Haram. Mengulang haji adalah sunnah, ia tidak lebih utama dibanding memberi makan tetangga yang kelaparan.

  • Memahami Sunnatullah dalam Penciptaan

Umat penengah haruslah paham tentang aturan yang berlaku. Tuhan menciptakan dan menurunkan Al-Qur’an beserta hukumnya secara bertahap. Bahkan larangan minum khamr diturunkan sebanyak empat kali ayat hingga akhirnya diharamkan.

  • Memberikan Kemudahan pada Orang Lain dalam Beragama

Rasulullah S.A.W. mencontohkan kita untuk berdakwah menggunakan metode yang memberikan kemudahan. Hal ini bukan berarti mengorbankan apa yang sudah ada dalam kitab. Kita memberikan suatu hal yang tingkatnya lebih mudah apabila dihadapkan dengan dua pilihan berat.

  • Memahami Teks Keagamaan Secara Komprehensif

Al-Qur’an sangat perlu dipahami secara komprehensif, ia tidak dapat diartikan per ayat dengan terpisah/terpotong. Al-Qur’an memiliki metode tafsirnya sendiri dan tidak dapat ditafsirkan secara hermeneutik. Jihad di jalan Allah tidak selalu diartikan sebagai perang menggunakan pedang, namun ia bisa dilakukan dengan jalan lainnya seperti mencari ilmu dan menguasai ekonomi.

  • Terbuka, Mengedepankan Dialog, dan Toleran

Moderat dalam islam juga ditunjukkan melalui keterbukaan dengan pihak lain. Keterbukaan ini akan menciptakan perdamaian dan kemudahan untuk mencari solusi-solusi atas permasalahan yang dihadapi sesama manusia selama tinggal di dunia. Sebagai muslim yang rahmatan lil ‘alamin pun dilarang untuk menjadi orang yang judgemental dan harus mengutamakan dialog terlebih dahulu. [1](Tamam, 2017:xix)

Dengan memerhatikan rambu dan pedoman yang sudah ada, maka menjadi sosok penengah diantara dua ideologi pun bukan hal yang mustahil. Islam sebagai ummatan wasatha bisa mengambil sisi positif dari dua ideologi yang bersebrangan tersebut. Sebagai seorang muslim juga harus bisa menemukan poin dan nilai mana diantara idealisme dan materialisme yang tidak bertentangan dengan nilai islam.

Dengan Idealisme kita dapat mengambil poin dan memercayai Tuhan, sehingga dapat meningkatkan keimanan kita sebagai muslim. Namun kita perlu mewaspadai juga karena ia terkadang melupakan materi yang memiliki bagian penting dari dunia. Dengan materialisme kita dapat mengamati bukti kekuasaan Tuhan yang ia ciptakan di dunia ini. Kita dapat menghayati bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan maksud, tujuan penciptaan, dan hikmahnya masing-masing.

Sebagai muslim ideologi tersebut perlu dipelajari dan ditelaah lebih lanjut, dengan tujuan utama yaitu meningkatkan kedekatan dan keimanan kita kepada Allah S.W.T. Menjadi penengah peradaban bukanlah hal yang mudah, karena banyak rambu yang harus ditaati. Namun itu perlu dilakukan untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah S.A.W. mencapai peradaban dunia yang rahmatan lil ‘alamin. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia ideal yang hidup di zaman barat menguasai adalah dengan menjadi ummatan wasatha dengan toleran dan selalu mengembalikan hukum pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi S.A.W.*

(*)Penulis: Agung Wahyu Nugroho

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Feminisme dalam Perspektif Universalisme Islam