Kupatan dan Pelajar untuk Masa Depan

Apa yang diharapkan oleh banyak orang ketika idul fitri datang? Jawabannya: mudik dan berkumpul dengan keluarga besar. Itu keinginan orang-orang pada umumnya. Tapi tidak ketika anda melakukannya di masa seperti sekarang ini. Untuk bisa mudik saja syukurnya luar biasa.

Berbicara tentang lebaran, tentu tak terlepas dengan salah satu adat jawa; kupatan. Sebuah hidangan khas yang hanya ada di momen lebaran. Biasanya makanan ini disantap dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng dan beberapa makanan lainnya. Mungkin kalau anda belum pernah merasakan, anda belum bisa dikatakan orang jawa. Karena saking familiarnya adat ini.

Sejarah kupatan bermula pada abad ke-15. Sunan Kalijaga memperkenalkannya dan menjadikan ketupat sebagai salah satu simbol untuk perayaan hari raya idul fitri. Jika dilihat dari maknanya, ketupat atau kupat merupakan kependekan dari Bahasa Jawa. Satu, Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan lalu meminta maaf kepada orang lain yang hingga saat ini masih membudidaya. Dua, Laku Papat atau empat tindakan, yaitu; lebaran, luberan (ajakan bersedekah), leburan (momen melebur dosa), dan laburan (kembali suci).

Dalam tulisan ini penulis tidak untuk melihat secara detail sejarah kupatan. Ada hal menarik yang perlu diperhatikan dalam tradisi ini. Dimulai dari segi rasanya, memang sama dengan nasi pada umumnya, lha wong bahan bakunya sama berasnya, masak rasanya berbeda. Tapi kenapa kupat lebih dipandang spesial daripada nasi? Karena secara simbolis kehadirannya sangat ditunggu-tunggu banyak orang, dianggap sebagai mempererat hubungan kekeluargaan, tidak ada kupat, tidak lengkap. Selain itu, dari proses pembuatannya dibutuhkan daun kelapa yang muda (janur) dan dibentuk dengan anyaman yang membutuhkan kesabaran. Semua proses itu saling melengkapi untuk terbentuknya makanan kupat yang enak.

Lalu apa hubungannya dengan pelajar, yang saat ini dihadapkan dengan pandemi berkepanjangan? Keduanya mempunyai kemiripan dan patut untuk digabungkan. Melihat kondisi pada umumnya, pelajar masih kegagapan dalam menghadapi situasi pandemi. Belum terdengar suatu kegiatan yang menyimpulkan bahwa ia berhasil mengatasinya. Mungkin hanya sekedar berpindah dari dunia nyata menjadi dunia maya, dari tatap muka menjadi dalam jaringan. Tapi itu bukan hal yang ditunggu-tunggu karena banyak orang bisa melakukannya.

Menurut Ir. Sudarusman, pelajar dahulu tidak bisa disamakan dengan pelajar masa sekarang. Dimana dahulu peserta didik dituntut untuk mengikuti guru ajarnya. Sekedar mencari nilai bagus di dalam kelas. Sedangkan pelajar di masa sekarang harus bisa mengatasi 2 problema. Satu bagi pelajar itu sendiri, dua bagi lingkungan atau masyarakat. Saya teringat betul ketika 8 tahun yang lalu Ir. Sudarusman pernah mengatakan bahwa tidak lama lagi semua keinginan dan pertemuan sudah bisa dilakukan dengan rebahan atau tiduran. Ketika kita menginginkan baju seperti pemain artis yang ada di TV, kita hanya mengeklik, mencarinya di HP, lalu membayarnya dengan e-money. Dua-tiga hari baju itu sudah tiba di rumahnya. Simple. Tak perlu repot-repot pergi ke toko baju. Dan situasi seperti itu sudah booming dalam setahun terakhir.

Ini berarti bahwa pelajar masa kini akan hidup di masa datang. Pelajar harus bisa mengatasi problem kehidupannya masing-masing. Hidup dituntut untuk memikirkan hal yang maju kedepan. Berbicara masa depan memang tidak aka nada habisnya. Karena begitu abstrak dan tak kasat mata.

Menilik tradisi kupatan diatas. Kenapa yang dipakai bungkus bukan daun kelapa yang tua? Berwarna coklat, keropos dan kegunaannya cocok untuk kayu bakar saja. Mengapa anyaman ketupat dibentuk dengan sedemikian rupa? Dibutuhkan kesabaran tingkat dewa karena begitu rumitnya. Dan satu lagi, kenapa hidangan kupat lebih dipilih daripada hidangan nasi yang katanya orang Indonesia tidak akan kenyang kalau tidak makan nasi?

Sudah saatnya peran pelajar muncul dalam menghadapi situasi genting seperti sekarang ini. Mempunyai jawaban atas segala permasalahan lingkungan. Mengubah pola pikir pandemi dari cobaan / hadangan menjadi sebuah rintangan. Hanya dari pelajarlah ide-ide bermunculan. Tunggu saja, mungkin mereka masih berproses untuk menjawabnya. Menunggu waktu yang nantinya kehadirannya akan ditunggu-tunggu banyak orang.

Terakhir, selamat makan kupat, hidangan yang enak untuk disantap. Apabila dimasa lebaran ini penulis belum bisa bertatap, kumohon maaf lahir dan batin atas perilaku saya yang kurang tepat.(*)

Penulis: Azmi Izuddin
Editor: Handie Pramana Putra

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Selamat Hari Anak Nasional, Bagi seluruh anak di Indonesia.