Kewajiban yang Terlewatkan

            Oleh: Azmi Izuddin

Menjelang hari H penerimaan rapot semester I, Nadia masih memiliki beberapa nilai merah. Bukan hanya pada nilai pelajaran, akan tetapi nilai kepribadian. Akhlak dan tingkah laku Nadia masih dinilai kurang oleh guru wali kelasnya. Jika ini dibiarkan saja yang artinya tidak ada perubahan, bisa jadi semester depan Nadia tidak naik kelas. Bu Jasmin sebagai wali kelasnya keheranan apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadia akhir-akhir ini. Guru-guru yang lain pun sama. bahkan seminggu terakhir Nadia sudah 2 kali memasuki ruangan BK karena bermasalah dengan teman-temannya. Serius. Permasalahan Nadia menjadi salah satu topik pembahasan saat rapat guru berlangsung. Seluruh guru sepakat dengan keheranan. “Kenapa?” tanya mereka dalam hati.

            Nilai merah mata pelajaran bisa diperbaiki saat remidi, akan tetapi nilai akhlak tidak bisa. Diperlukan pengamatan lebih lama. pembelajaran akhlak tidak bisa satu hingga dua pekan saja. Ya berbulan-bulan lamanya, malah bisa jadi bertahun-tahun.

            Pernah saat itu, teman-teman sedang mengantre untuk membeli minum di Bu Jum, penjaga kantin sekolah.

            “Baik, ini uangnya Bu Jum.” Sodor Nadia yang tiba-tiba datang menyelat.

“Eh enak aja, antre dong Nadia!” Kata Ameng setelah minumannya direbut oleh Nadia

Sorry, haus banget nih habis lari-lari, tinggal beli lagi apa susahnya sih? Toh cuman satu antrean saja.”

“Keterlaluan kamu Nad! Walaupun sepertinya sepele, tapi tidak bisa gitu dong.” Timpal Ameng.

“Anggap aja bercanda Ameng, santai aja lah.” Balas Nadia.

Kejadian itu tidak sekali saja, tapi hampir tiap hari. Kelakuan Nadia sudah berubah. Saat kelas 10 SMA dulu tidak seperti ini. Bisa jadi gadis berambut lurus panjang itu sedang menikmati masa-masa remaja. Tapi tidak. Sama sekali tidak! Tidak ada hubungannya dengan masa perubahan dari kanak-kanak ke remaja. Dimana peran orang tuanya, guru, dan juga teman-teman. Bukankah kelakuan itu juga tergantung pada lingkungannya?

“Nadia sayang, kok kamu pulangnya malam terus sih, kenapa? Ada apa?” Tutur Mama saat Nadia pulang jam 7 malam.

“Kan sudah ngga ada ujian Ma. Jadi ngga ada belajar di malam hari. Aduh,  aku capek Ma, aku duluan ke kamar ya.” Jawab Nadia sambil jalan melewati Mamanya.

Di dalam kamar, perasaan Nadia tak bisa membohongi dirinya. Bulan purnama yang terlihat dari bilik jendela, tiba-tiba mata Nadia tak kuat menahan derasnya air mata. Jatuh pelan-pelan melewati pipi merahnya. Berkumpul menuju dagu. Butir itu jatuh satu demi satu. Semakin lama semakin deras. Hatinya ingin berbicara, tapi keadaan sedang tidak baik-baik saja. Mulut Nadia terbuka, berkata jujur kepada bulan purnama. Mengatakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Dunia sedang menunggu cerita-cerita apa yang sedang dialaminya, namun jawabannya selalu masih “sabar”. Belum waktunya yang pas untuk dikabarkan kepada dunia. Kalau pun toh bulan purnama bisa berbicara, mungkin bulan itu siap menjadi saksi pertama terhadap apa yang telah Nadia alami akhir-akhir ini.

  Sejak dulu, siswi yang hobinya menulis itu selalu mengungkapkan perasaannya kepada bulan purnama. Baginya jawaban-jawaban atas beberapa pertanyaannya dalam hati selalu hadir dan benar walau ia harus mencarinya sendiri. Puas. Suasana hening dan tenang. Inilah yang membuat Nadia nyaman untuk tidur semalaman.

“Terimakasih bulan, kau telah menemaniku malam ini.” Ungkap Nadia sambil tersenyum.

###

“Mama, Nadia berangkat dulu.”

“Iya nak, hati-hati.”

“Papa mana Ma.”

“Sudah berangkat kerja dari tadi Nak, Mama pun juga kaget kalau Papa sudah berangkat.”

Wajar saja Papa Nadia berangkat pagi-pagi. Ia mendapat amanah sebagai direktur Bank di salah satu kota besar. Kesehariannya adalah berangkat pagi-pagi dan pulang hingga larut malam. Tapi, Papa Nadia juga selalu memerhatikan kondisi rumahnya. Sebelum berangkat ke kantor misalnya. Ia tak pernah lupa untuk memastikan sarapan keluarganya, memastikan ini dan itu. Semuanya. Ketika malam, Papa Nadia hampir setiap hari pulang pukul 8 malam. Kadang makan malam diluar. Sesampai rumah langsung mandi dan tidur untuk menyiapkan hari esoknya. Sedangkan Mama Nadia adalah seorang penjahit dan ibu rumah tangga. Bukan penjahit biasa, Ibunya sudah terkenal dengan kerapian jahitannya penduduk se-kecamatan walaupun di depan rumahnya tidak ada kata “Tukang Jahit”.

“Kok Nadia pulang malam terus sih Pa?”

“Papa kan kerja, sedangkan Mama yang seharian di rumah, ya seharusnya Mama lah yang bertanggung jawab atas kedisiplinan Nadia.”

“Papa juga harus pengertian dong kalau Mama tidak bisa, kalau anak kita kelakuannya akhir-akhir ini seperti itu. Bukan hanya Mama saja, tapi kita Pa. Kita!” Jawab Mama Nadia.

“Udah-udah tenang, nanti kalau Papa ada cuti kita obrolin bersama. Mama yang tenang ya.” Timpal Papa Nadia.

Tapi nyatanya belum saja terjadi. Papa Nadia selalu nglembur kerja. Pulang larut malam. Akhir pekan tidak pernah absen menghadiri undangan ke luar kota. Saking cerdas dan pintarnya, ia tiap kali menjadi pembicara seminar. Tiada bandingannya memang. Papa Nadia mampu menghidupi keluarganya dengan harta yang cukup. Tidak kurang sedikit pun.

###

“Teman-teman, coba kalian perhatikan! Kenapa sih warung keluarga Fika selalu ramai, padahal dia baru satu minggu buka usaha rumah makan ayam geprek itu?” tanya Nadia mengumpulkan teman-teman kelasnya selepas istirahat.

“Enggak” jawab seluruh siswa keheranan.

“Memangnya kenapa Nadia.” Tanya Sindi

“Jangan bicara ke siapa-siapa ya, ternyata eh ternyata ayamnya itu adalah ayam tiren, alias mati kemaren.” Terang Nadia dengan bisik-bisik suara jelas.

“Hiiii jijiknya, ogah ah aku makan kesitu lagi.”Balas Sindi diantara gumaman seluruh siswa dan tidak lama Bu Jasmin datang membubarkan kerumunan tersebut.

Kelakuan Nadia makin lama makin menjadi. Tidak hanya satu-dua kejahilan yang ia lakukan, akan tetapi sudah hampir setiap hari serta penurunan akhlaknya juga tidak bisa dianggap remeh. Bercandanya sudah melewati batas. Memanggil sebutan temannya dengan nama orang tua, menuduh teman yang tidak salah, pemicu kerusuhan, tidak bayar saat jajan di kantin, dan masih banyak lagi. Hal ini membuat teman-teman Nadia merasa risih atas kehadiran Nadia dimana pun berada. Tidak suka perbuatan dan tingkah lakunya. Mulai dari cara berbicara, tidak punya sopan-santun, sombong, angkuh, pemberi janji palsu dan lainnya. Kepribadian itu sungguh nampak pada diri Nadia. Tidak ada sinyal perubahan menuju kebaikan.

Tak salah, jika teman-temannya melaporkan kepada guru wali kelasnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Bukan masalah naik kelas atau tidak, nilai bagus atau jelek, datang tepat waktu atau terlambat. Ini tentang akhlak yang tidak terlihat, akhlak yang telah melewati batas.

5 hari kemudian.

Tepat satu hari sebelum pembagian raport. Semua teman-teman berkumpul di ruang guru. Termasuk Fika, Sindi, Ameng, dan beberapa teman yang pernah disakiti Nadia. Mereka sepakat mengadu kepada Bu Jasmin. Dengan harapan sikap dan perilaku Nadia berubah. Mereka mengadu bukan untuk benci, mereka ngadu bukan untuk adu domba. Tapi dari lubuk hatinya sendiri mereka peduli, khawatir akan sikap Nadia yang seperti ini. Fika yang dulunya sebagai teman akrabnya, sekarang menjadi semata-mata

“Baik terimakasih teman-teman, kalian telah melapor sesuatu hal yang penting, Fika tolong panggilkan Nadia kemari.”

“Nadia, disini ada teman-temanmu, mereka akan jujur dan terbuka kepadamu dan juga kepada Ibu Jasmin. Disini kamu tidak sendiri dan tidak salah. Sekarang silahkan Ameng, ada apa sebenarnya dengan Nadia.” Nada tegas Bu Jasmin menjelaskan.

“Nadia kurang ajar Bu, masak saya beli minuman sudah menunggu lama, dia tinggal comot yang sebetulnya giliran saya.”Jelas Ameng protes.

“Gara-gara Nadia, dagangan keluaga saya makin sepi Bu, beritanya sudah nyebar. Masak katanya ayamnya tiren, padahal benar-benar fresh.” Terang Fika.

“Saya nggak enak hati Bu, sering dibully terus. Entah itu gemuk, hitam, badut.” Kata Lia meneruskan pembicaraan.

“Nilai ujian Bahasa Indonesia kosong Bu, gara-gara Nadia saya dikira menyontek dan ramai. Padahal sebenarnya Nadia yang bikin ribut.”Nafisa menambahkan.

Semua teman-teman Nadia mengungkapkan perasaannya kepada Bu Jasmin. Membicarakan baik-baik. Agar Nadia dapat teguran langsung dari Bu Jasmin.

“Nadia, dahulu kamu tidak seperti ini. Ingatkan tahun kemarin kamu juara 2 olimpiade biologi tingkat provinsi? Sekarang kamu berbeda Nadia. Berbeda sekali. Akibat dari perbuatanmu itu menimbulkan berbagai masalah dengan teman-teman kamu. Bahkan juga guru-guru. Kamu sering izin keluar kelas, makan di kelas, tidak mengerjakan PR. Mana Nadia yang dulu, yang selalu rajin dan taat kepada guru, juga kepada teman-teman. Ini pengakuan dari teman-temanmu. Mereka sudah tidak tahan atas perbuatanmu. Semakin lama semakin jadi.” Jelas Bu Jasmin mengambil nafas.

“Sekarang kamu tahu kan Nadia, kalau kamu itu salah?” Tanya Bu Jasmin.

“Maafin saya Bu, saya tahu saya salah. Saya juga menyadari hal ini.”

“Syukurlah, kalau kamu mengakuinya Nadia. Sekarang apa sih yang mengakibatkan kamu berperilaku seperti ini? Kalau memang perlu dibicarakan, ceritalah Nadia?” Sahut Bu Jasmin.

“Saya lelah Bu, capek. Saya iri melihat Ameng yang diantar ke sekolah dengan Papanya setiap hari, saya juga ingin seperti Fika yang bisa berdiskusi dengan Mamanya. Saya ingin seperti Nafisa yang setiap akhir pekan bisa jalan-jalan bareng keluarga. Saya ingin seperti kalian yang bisa bercerita dengan keluarga. Saya tidak ada tempat cerita Bu. Tiap hari Papa selalu pulang malam. Mama sibuk menjahit. Aku berangkat dan pulang sekolah sendiri. Makan sendiri, belajar sendiri, semuanya serba sendiri. Saya hanya ada bulan purnama yang selalu baik menemani. Saya ingin cerita banyak pada Papa dan Mama tapi tidak tahu kapan waktunya.” Cerita Nadia dengan menetes air mata.

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Lawan Penyakait dengan Berolahraga