Kembali Ke Fitrah : Sebuah Refleksi Terhadap Manusia Indonesia

“Setiap anak terlahir dalam fitrahnya” kurang lebih demikian sepenggal frasa dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hari ini umat islam berada dalam gemuruh euforia merayakan sebuah kemenangan besar. Menyambut terbitnya fajar dengan menyebut kebesaran Allah SWT sembari menjadi momentum bagi seorang insan untuk kembali pada fitrahnya. Momentum bagi setiap umat untuk kembali mensucikan diri dengan berbagi maaf dalam suasana hati yang penuh ketentraman. Sebagaimana fitrah manusia sebagai makhluk yang suci.

Momentum kembalinya umat manusia pada kondisi semulanya seperti hari ini kemudian memunculkan pertanyaan, bagaimana dengan fitrah seorang manusia Indonesia ? Bagaimana dari Sabang sampai Merauke, berbagai macam suku, budaya, dan bahasa dalam satu momentum besar bernama Sumpah Pemuda bersepakat, untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Maka fitrah seorang manusia Indonesia perlu bertumpu pada satu momentum untuk terus diperingati, sebagaimana umat islam memperingati kembalinya fitrah mereka dalam momentum perayaan hari raya idul fitri.

Salah satu penjelasan mengenai manusia Indonesia diterangkan oleh seorang jurnalis ternama yaitu Mochtar Lubis, salah satu pendiri Yayasan Obor Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul manusia Indonesia, Mochtar Lubis mempertanggungjawabkan ceramahnya tentang manusia Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tahun 1977. Gambaran manusia Indonesia dalam ceramah Mochtar Lubis tidak hanya penuh dengan keterusterangan yang sesumbar memberikan rasa pesimisme yang besar. Sebagaimana gambaran tersebut jauh dari omong-omong besar mereka yang berlagak mempertaruhkan kan segala pengorbanannya untuk kepentingan bersama.

Setidaknya terdapat enam ciri manusia Indonesia yang disebutkan oleh Mochtar Lubis ( 2001: 18-34 ). Enam ciri tersebut antara lain (1) Hipokrit, (2) Enggan bertanggung jawab, (3) Bersikap dan Berperilaku Feodal, (4) Percaya Takhayul, (5) Artistik, (6) Lemah karakternya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, enam ciri yang disebutkan oleh Mochtar Lubis jauh dari api optimisme kebangkitan suatu bangsa yang sedang terpuruk. Bagaimana Mayoritas dari ke-enam ciri tersebut muncul ketika manusia Indonesia sedang dihadapkan dengan suatu kekuasaan. Setidaknya melalui ciri ketiga, yaitu bersikap dan berperilaku feodal menjadi akar kelahiran keempat ciri lainnya. Sebab ciri kelima merupakan satu-satunya ciri yang memuji tingkat tingkat artistik yang dibalut dengan kepekaan rasa manusia Indonesia.

Sulit untuk mengucap bahwa bangsa ini telah dengan sebenar-benarnya merdeka untuk setidaknya telah terbebas dari segala bentuk penindasan. Seperti yang tertulis secara megah visi Indonesia dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea pertama. Sebagaimana karakter penindas yang dilambangkan dengan watak feodal, bangsa ini belum mampu untuk memutus rantai watak yang buruk tersebut. Bahkan setelah Indonesia diakui kemerdekaannya, realitas manusia Indonesia kian jauh dari apa yang telah menjadi angan-angan.

Bagaimana melalui watak feodal membuat mereka yang ditindasnya untuk bersikap hipokrit (munafik). Bahwa tindakan baik atau mulia yang dilakukan hanya dilakukannya sebagai bentuk keterpaksaan agar seseorang tidak lebih ditindas. Lantas ketika watak feodal mulai menguasai seseorang baru muncul sikap enggan bertanggung jawab. Yang memiliki kuasa seenaknya menunjuk-nunjuk seseorang untuk disalahkan. Sementara yang disalahkan merasa dirinya hanyalah sekrup penguasa sehingga kesalahan harus diarahkan pada otoritas tertinggi, yaitu pemegang kekuasaan. Kemudian untuk menguatkan pengaruhnya sebagai langkah menyempurnakan watak feodal perlu dilengkapi dengan penciptaan-penciptaan takhayul untuk memberikan bagaimana indahnya mencapai suatu tujuan dengan cara menindas. Dengan demikian watak seseorang akan dengan mudah goyah sehingga mulai mewarisi dan akan mewariskan watak-watak feodal yang merasa membuatnya perkasa.

46 tahun ceramah tersebut disampaikan oleh seorang Mochtar Lubis. Apakah keenam ciri tersebut masih relevan dengan manusia Indonesia hari ini sehingga nantinya keenam ciri tersebut layak disebut sebagai fitrah manusia Indonesia ? Sepertinya harapan terlalu besar nan berat terhadap mereka yang hidup dan menghidupi peristiwa Reformasi ‘98. Ketika raja besar Soeharto turun dari tahta presidennya setelah 32 tahun lamanya. Peristiwa Reformasi ‘98 diharapkan tidak menjadi sekedar pergantian kepemimpinan belaka. Tetapi juga menjadi momentum bagi musnahnya watak feodal manusia Indonesia. Namun faktanya watak feodal tersebut kian merajalela. Raja besar yang diturunkan dalam Reformasi ‘98 rupanya  melahirkan raja-raja kecil lainnya.

Seperti yang disebutkan Erich Fromm, pada peradaban yang serba modern seseorang lantas mudah gagap dalam mengidentifikasi identitasnya. Sehingga untuk menggenapkan identitasnya, seseorang perlu mengaitkan dirinya dengan potongan-potongan bagian kehidupannya. Termasuk didalamnya menampilkan potongan bagian hidup seseorang yang menggambarkan bagaimana besarnya kekuasaan yang dimilikinya.

Tetapi manusia Indonesia tidak boleh lantas putus asa begitu saja menghadapi imortalitas watak feodalnya. Semua perlu dimulai dari mengevaluasi sistem pendidikan hari ini. Bagaimana hormat pada guru bukanlah suatu bentuk taqlid buta. Pun bukan berarti menentang guru bukanlah tindakan heroik yang perlu di puja-puja. Sistem pendidikan hari ini perlu memproduksi ulang moralitas baru bagi para pelajar, untuk menentukan ukuran etik untuk diteladani di kemudian hari. Bagaimana guru perlu untuk mengajarkan pentingnya berbagi bukan dalam rangka mengasihi belaka, tetapi juga dalam rangka menciptakan pembagian kekuasaan yang merata. 

Seperti yang kerap ditemukan di bangku sekolah, bahwa pelajar dengan badan yang lebih besar akan memiliki legitimasi kekuasaan yang besar terhadap pelajar dengan badan yang lebih kecil. Situasi tersebut yang perlu untuk dikembangkan dalam miniatur permainan kerjasama. Bahwa terdapat hal-hal yang juga tidak bisa dilakukan oleh pelajar berbadan besar tersebut seorang diri. Memberikan pengetahuan bahwa semua orang memiliki porsi kekuasaan yang sama.

Terlebih IPM juga memiliki peran besar dalam mengelola kehidupan pelajar di lingkungannya. Penyematan status ‘pimpinan’ bukanlah suatu hal yang perlu dimaknai sebagai status yang kemudian mengkultuskan IPM dari lingkungannya. Lebih dari itu, status pimpinan berfungsi untuk mengelola kehidupan pelajar di lingkungannya agar tercipta sinergitas antar elemen-elemen di dalamnya. Melalui IPM perlu dipahami bahwa diberikannya kekuasaan pada satu kelompok bukan kemudian digunakan untuk memperoleh legitimasi kesewenang-wenangan ataupun sekedar melepas dahaga kehormatan. Bagaimana kader-kader IPM nantinya perlu menjadi cetak biru manusia Indonesia yang telah terbebas dari watak feodalnya.

Refleksi terhadap manusia Indonesia yang dikemukakan oleh Mochtar Lubis sekilas menjadi bentuk pesimisme terhadap masa depan pembangunan manusia Indonesia di masa yang akan datang. Tetapi di dalam kalimat-kalimat pesimisme tersebut tertanam kekuatan bagi para pembacanya untuk terpantik mematahkan anggapan manusia Indonesia yang telah disebutkan di dalamnya. Terlepas dari itu semua, fitrah manusia Indonesia perlu disandarkan pada semangat dan cita-cita para pembangun bangsa yang besar karena ide-ide menggugat nan revolusionernya. Fitrah tersebut yang dalam beberapa waktu kedepan menjadi tugas besar IPM dan organisasi yang mengikat anak-anak usia muda lainnya untuk segera mewujudkan fitrah bagi manusia Indonesia itu sendiri.

Selamat merayakan kemenangan bagi umat islam dan bangsa Indonesia,

Selamat berjuang mewujudkan kembalinya fitrah manusia Indonesia yang sebenar-benarnya.

Oleh : Muh Rusydan Mirwan Hadid

IPM Televisi

Sosial Media Resmi

More Stories
Menangkis Eksklusifitas Masa Depan IPM